BREAKING NEWS

Kesehatan

Hidup Sehat

Video

From our Blog

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Apa Pun yang Terjadi Kita Tetap Membaca Qur’an

Sepintas keduanya normal-normal saja. Namun jika kita perhatikan dengan seksama, maka akan kita ketahui bahwa keduanya adalah tuna netra. Juz 30 dibaca penuh penghayatan, tangannya terus mengikuti titik-titik kertas Qur’an braille.

Jemari, pendengaran dan mata hati adalah kekuatan yang Allah anugrahi untuk kedua insan tersebut agar tetap bisa tilawah Qur’an.

Ternyata jumlah yang mengidap kebutaan ada 3,5 juta di Indonesia dan 80-90% adalah muslim, perlu diadakan survey lagi beberapa jumlahnya yang bisa membaca Qur’an, karena untuk membeli Qur’an Braille harus menggeluarkan biaya sebesar Rp 1.650.000,- bandingkan dengan Qur’an yang dimiliki oleh kita di rumah masing-masing!

Para penyandang tuna netra disamping keterbatasannya dengan penglihatan, mereka masih harus berjuang lagi dengan mahalnya untuk sebuah Qur’an Braille.

Keterbatasan bukan menjadi penghalang, keterbatasan justru menjadi bara semangat yang tak pernah padam untuk terus bisa membaca “ayat-ayat cinta” dari Allah.

Keduanya sama-sama tunanetra dan tengah sibuk belajar mengajar membaca Al Qur'an, saya dapati mata hatinya lebih bercahaya mampu melihat di kegelapan dunia.

Bagaimana dengan kedua mata saya?

Bagaimana dengan kedua mata anda?

Bagaimana dengan kedua mata kita?


Aku malu, hening dan merenung, sudahkah aku bersyukur dengan kedua mata yang Allah berikan, seberapa sering digunakan untuk membaca Qur’an?

Ada pesan #AYTKTM pada kedua gadis itu.

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an) maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dilipatgandakan dengan sepuluh (pahala). Aku tidak mengatakan Alif Laam Mim adalah satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf” (HR. Tirmidzi)

“Orang yang mahir Al Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan baik-baik dan orang yang membaca Al Qur’an dan terbata-bata membacanya dengan mengalami kesulitan melakukan hal itu maka baginya dua pahala” (HR. Muslim)

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari)
 
Keduanya sama-sama tunanetra dan tengah sibuk belajar mengajar membaca Al Qur'an, saya dapati mata hatinya lebih bercahaya mampu melihat di kegelapan dunia.

Jadi mana yang buta sebenarnya?
Mata kita atau mata hati kita?

# AYTKTM…Apa Pun yang Terjadi Kita Tetap Membaca Qur’an


Inikah Gerangan Cinta

Kali ini saya ingin menulis tentang hal yang banyak sekali orang yang sudah membahasnya, dalam tulisan, dalam lagu, atau pun puisi. Itulah C.I.N.T.A. Setiap orang pasti pernah merasakan hal itu. Ada tangis dan tawa di dalamnya, ada duka dan gembira, ada pula pahit dan manis yang dirasakannya. Rasa yang mampu menharu biru setiap insan yang dihinggapinya, hingga terkadang mampu melakukan hal di luar biasanya, terkadang mampu membuat seseorang bak menjadi pahlawan nan perkasa, terkadang juga mampu membuat seseorang menjadi melankolis akut. Yang pasti, rasa ini adalah salah satu anugrah-Nya yang tidak dimiliki mahluk lain selain kita, manusia.

Kisah cinta pun banyak bermunculan sejak pertama kali manusia diciptakan, mulai dari kisah cinta Adam dan Hawa, ada pula yang berakhir tragis seperti kisah Qabil dan Habil, menunjukkan manusia generasi pertama pun sudah memiliki rasa itu. Kebanyakan seniman mengekspresikan rasa cinta ini dalam tulisan maupun lukisan, bahkan juga dalam film. Hampir semuanya menggambarkan indahnya kisah cinta yang mampu menyedot emosi dan menghanyutkan perasaan siapapun yang melihatnya. Namun, ada pula yang berakhir tragis dalam kasih tak sampai seperti kisah “Siti Nurbaya” maupun roman “Romeo and Juliet” karya William Shakespeare.

Tidak terkecuali saya, semua manusia pasti pernah merasakannya, baik berakhir suka maupun duka. Namun, dalam tulisan ini, ingin saya menuangkan arti cinta dalam pandangan dan hamparan perjalanan hidup saya untuk memahami apa arti cinta itu sebenarnya. Bukan berarti apa yang saya pahami adalah yang paling benar diantara pendapat lainnya, setidaknya sedikit memberikan arti dan masukan bagi siapapun yang membacanya.

Berawal dari sebuah buku yang saya temukan di pasar buku Palasari Bandung. Ada sub judul yang paling menarik bagi saya, tertulis dalam buku tersebut “Ketika sebagian laki-laki berharap dapat menikahi wanita yang dicintainya, Aku memohon dengan segala kerendahan hati untuk dapat mencintai wanita yang saya nikahi”. Tidak mudah memahami kalimat itu, butuh waktu yang panjang untuk dapat benar-benar memahaminya. Memang, kebanyakan orang, baik laki-laki maupun perempuan, ingin menikah dengan seseorang yang dicintai, baik karena orientasi fisik maupun kedekatan emosional. Sangat wajar ketika saya pernah menanyakan hal tersebut pada seorang teman, seperti apa wanita idaman yang ingin engkau nikahi? Jawabnya, “tinggi, putih, langsing dan setia”. Mhhh kalau gitu ada, tuh nikahi aja tiang listrik, tinggi menjulang, putih, langsing dan setia gak kemana-mana dari dulu di situ terus. Ada juga yang menjawab, “shalihah, pinter, cantik, anak orang kaya, anak tunggal, calon dokter, baik hati, juga tidak sombong”. Mhhh mungkin kalau ada yang seperti itu, mending untuk saya dulu dari pada untuk ente.

Semua parameter ideal calon pasangan diungkapkan dengan tujuan mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan. Cukup manusiawi dan wajar ketika parameter itu banyak mengarah ke masalah fisik. Tapi, apakah itu cukup? Jika kita lihat dalam berita sehari-hari yang kita baca, banyak pesohor negeri ini yang memiliki pasangan cantik atau tampan, sedihnya sebanyak itu pula kita mendengar berita perpisahan mereka. Kurang cantik gimana lagi si anu? Kurang sexy seperti apalagi si itu? Kurang kaya apalagi si dia? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat mungkin akan muncul jika kita melihat suatu ikatan cinta karena parameter fisik atau materi saja. Dalam pelaksanaannya, kehidupan yang kemudian dijalani sehari-hari dengannya, kita mulai tahu seperti apa kebiasannya, seperti apa karakternya, seperti apa sifatnya, kemudian kita dapat menilai. Fisik pun semakin hari semakin menua, walau ditemukan obat anti aging pun tetap tidak akan mampu menghentikan gerogotan penyakit tua ini. Lalu, apa yang membuat seseorang mampu bertahan dan mempertahankan cintanya? Seseorang akan mampu mempertahankan cintanya, akan mampu hidup dengannya, ketika dia merasa NYAMAN dengan pasangannya. Ketika pasangan kita mampu kita ajak komunikasi, mampu memahami apa yang kita inginkan, memiliki sesamaan visi, dan juga mampu saling menguatkan.

Kemudian, pertanyaan lainnya adalah apakah kenyamanan saat bersama pasangan kita adalah sebuah tanda cinta? Bagaimana jika kita tidak merasa nyaman lagi? Lalu apa yang harus dilakukan? Sebelum kita jawab pertanyaan di atas, saya ingin mengulas cinta dari berbagai perspektif. Dalam kehidupan, sebenarnya sudah banyak yang mengajarkan kita mengenai arti cinta itu sendiri. Namun terkadang karena tidak sesuai dengan orientasi kita, lalu sinyal pembelajaran itu tidak mampu kita tangkap. Cinta menjadi terlalu sempit jika diartikan hanya sebatas keinginan biologis maupun rasa nyaman saat bersamanya, karena cinta memiliki arti yang jauh lebih besar dari itu semua.

Jika kita mengartikan cinta adalah ketulusan, maka kita dapat belajar dari cinta Allah pada hamba-Nya. Dia akan senantiasa menanti cinta kita, senantiasa memberi apa yang kita minta, melindungi kita dari mara bahaya, walupun kita mengingkarinya, walaupun kita mendustakannya, walaupun kita tidak mentaatinya. Ahh terlalu jauh jika dibandingkan dengan Tuhan. Ok, kita belajar pada matahari, setiap hari setia menerangi kita, menumbuhkan tanaman untuk kita, memberi vitamin untuk kita, menghangatkan tubuh kita jika kedinginan, atau sekedar memberikan sedikit ronanya agar kita mampu menikmati keindahannya. Pernah kah sekali saja kita memberi pada matahari? Atau bulan yang setia menemani malam kita, memberikan cahayanya agar malam kita tidaklah menjadi kelam, pernah kah kita barang sebentar membersihkannya agar cahayanya tidak memudar? Ahh mereka kan bukan mahluk hidup. Baiklah, kalau begitu kita belajar cinta pada orang tua kita, yang mencintai kita tanpa ada pilih kasih dengan saudara kita, tanpa meminta apapun dari kita. Mereka hanya ingin melihat kita bahagia, di dunia dan akhirat.

Jika kita mengartikan cinta adalah kesetiaan, kita dapat belajar pada Siti Hajar. Ketika Allah memerintahkan suaminya Ibrahim as. untuk pergi ke Palestina, Ibrahim meninggalkan istrinya beserta anaknya yang masih bayi di padang gersang, sendiri dan tidak ada orang lain di sekitarnya. Apakah kemudian Hajar mutung dan meninggalkan Ibrahim? Tidak, dia menantinya seperti apa yang diamanahkan padanya.

Jika kita mengartikan cinta adalah sebuah komitmen, kita dapat belajar pada sosok Yusuf as. Ketika dia digoda oleh Zulaikha, bukan berarti Yusuf tidak tergoda saat itu, sisi manusiawinya menunjukkan ketertarikan pada Zulaikha yang rupawan. Namun komitmennya pada Tuhannya yang mampu membuatnya menahan diri hingga saat yang tepat telah tiba.

Jika kita mengartikan cinta adalah kesabaran, kita dapat belajar pada Asyiah, istri Fir’aun. Betapa ia sabar dalam keta’atan pada Tuhannya, tapi juga ia sangat sabar dalam melayani suaminya yang kufur. Tiada keluhan atau keputusasaan, yang dilakukannya adalah berusaha untuk senantiasa sabar menjalani peran hidupnya tersebut.

Jika kita mengartikan cinta adalah pengorbanan, maka kita dapat belajar pada Bunda Khadijah yang mulia, yang senantiasa berada di depan suaminya ketika masalah menghadangnya. Bukan hanya jiwa dan raga yang ia berikan, bahkan seluruh hartanya pun direlakan untuk perjuangan suaminya. Kita juga dapat belajar pada para pencinta di negeri ambiya Palestina, mereka mengorbankan seluruhnya, nyawanya, keluarganya, hartanya, bahkan waktunya untuk negeri yang dicintainya. Dan ingat, mereka semua tidak pernah meminta balasan apapun.

Jika kita mengartikan cinta adalah keteguhan, kita bisa belajar pada kisah cinta Yasir dan Sumayyah, yang teguh dalam pendiriannya untuk mempertahankan keimanannya, walaupun siksaan tak henti-hentinya hingga akhirnya mereka harus terpisahkan “di dunia” dan meregang nyawa.

Jika kita mengartikan cinta adalah kasih sayang, kita bia belajar pada Rasulullah saw. yang begitu sangat mengasihi kita, menyayangi kita, mengajarkan kita tentang kebenaran, dan mensyafa’ati kita di yaumul hisab kelak. Apakah kita telah membalas semua jasanya? Banyak diantara kita yang malah menghinanya, menghujatnya, tidak mengindahkan sunnahnya, bahkan mendustakannya. Lalu apakah kemudia ia membenci kita? Tidak, ia selalu mengkhawatirkan kita hingga akhir hayatnya.

Dari beberapa contoh kisah cinta yang saya tulis di atas, bisa kita lihat bahwa cinta tidak mesti mendapat jawaban atau dijalani dengan kondisi yang nyaman. Cinta adalah sebuah ekspresi dan konsekuensi dari apa yang kita cintai itu sendiri. Kadang penuh air mata, tidak sedikit yang harus berdarah-darah. Apakah kemudian kita harus meninggalkannya? Tidak salah jika sebuah buku tercipta dengan judul “Ketika Cinta Harus Diupayakan”. Cinta tidak tumbuh dengan sendirinya, cinta juga tidak bisa kita bunuh sekehendak kita. Kita akan merugi jika rasa cinta itu tercabut dari diri kita. Cinta membutuhkan pengorbanan, ketulusan, kesabaran, keteguhan, komitmen, dan kasih sayang. Baik terbalaskan atau tidak, atau membuat kita nyaman atau tidak, bukan di situ letak orientasinya.

Dalam berumah tangga, tentu kita menginginkan kita berada di taman bunga yang indah. Melihat bunga bermekaran dengan Indah, harum semerbak, bahkan mungkin ingin menghisap madunya. Tapi, bukan tidak mungkin kita bahkan menemukan bunga yang masih kuncup di hadapan kita. Tugas kita lah untuk membuka kelopak keimanannya, membuka kelopak cintanya, membuka kelopak kesabarannya, membuka kelopak kesetiaanya, dan membuka kelopak kasih sayangnya agar kuncupnya mekar jadi bunga. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan. http://www.islamedia.web.id/2013/10/inikah-gerangan-cinta.html

Ringan Diucap Berat Dihisab

"Tidak mungkin lahir anak yang shalih jika orangtua tidak menshalihkan diri dulu." Ini kalimat yang tampaknya benar, tetapi ada hal serius yang perlu kita khawatirkan. Pertama, hendaklah kita menafikan apa yang masih mungkin terjadi. 

Sama halnya, jangan memastikan apa-apa yang memang tidak dipastikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Kedua, jika tidak ada peluang bagi manusia untuk berubah, baik di masa kecil maupun sesudah dewasa, lalu apa gunanya pendidikan dan dakwah?

Berapa banyak orang-orang shalih yang tinggi kemuliaan imannya justru lahir dari orangtua yang salah dan bahkan amat besar kemungkarannya. Bukankah Nabiyullah Ibrahim 'alaihissalaam, bapak dari para nabi, justru lahir dari orangtua pembuat patung berhala? Bukankah kita juga mendapati di zaman kita maupun di masa silam orang-orang shalih yang juga terlahir dari keluarga yang salah? Ini semua menunjukkan bahwa harapan lahirnya anak-anak shalih dan bahkan menjadi pejuang dakwah yang paling gigih dari keluarga yang bahkan paling keras permusuhannya dengan agama kita ini.

Ada yang berucap, kalau orangtuanya saja tidak membaca Al-Qur'an, bagaimana mungkin ia berharap anak-anaknya menjadi orang yang mencintai Al-Qur'an dan fasih membacanya? Ini sepintas benar, tetapi tidak berdasar. Banyak 'alim dalam agama ini yang justru lahir dari keluarga yang sangat awam. Hampir-hampir tak mengenal agama ini.

Setiap kita memang harus berusaha untuk menjadi pribadi yang shalih. Dan kepada Allah Ta'ala kita berharap anak-anak yang shalih dan barakah. Kita perlu berjuang keras untuk menjadi orang yang shalih karena ketundukan kita kepada Allah Ta'ala. Bukan semata agar anak sukses, meskipun tentu saja ini sangat kita harapkan.

"Kalau orangtuanya shalih, pasti dan pasti anak-anaknya akan shalih." 

Apakah kalian mengira Nabi Nuh dan Luth'alaihimas salam tidak shalih? Keduanya adalah nabi. Ibadahnya sudah pasti bagus dan akhlaknya jelas terpuji. Teladan? Jangan ditanya lagi. Tetapi putra kedua Nabiyullah yang mulia itu terlepas dari iman dan jatuh pada kekafiran.

Aku nasehatkan kepada diriku sendiri yang bodoh ini, juga kepada para trainer yang amat memukau, jangan pastikan yang Allah Ta'ala tak pastikan! Jangan pula menisbikan apa-apa yang Allah Ta'ala sudah pastikan. Jika sesuatu itu dipastikan oleh Allah Ta'ala, maka tak patut kita meragukannya. Yang perlu kita pahami adalah sebab-sebab di balik buruknya keturunan dari orang-orang yang baik. Pun, baiknya keturunan dari orang buruk.

Bertawakkallah kepada Allah Ta'ala. Jangan bertawakkal kepada sebab. Sepintas sama, tapi keduanya sangat jauh berbeda. Do'a itu adalah pinta kita kepada Allah 'Azza wa Jalla. Kita memohon penuh harap dan takut. Adakalanya dikabulkan seketika, adakalanya ditangguhkan dan adakalanya menjadi simpanan kebaikan di akhirat. Di dunia tak dikabulkan, tetapi di akhirat menjadi kebaikan. Ini semua adalah hak mutlak Allah Ta'ala untuk menentukan. Bukan ditentukan oleh jenis ucapan do'a maupun teknik (yang belakangan berkembang). Maka bertawakkallah kepada Allah Ta'ala. Bukan kepada sebab. Apalagi yang tidak ada dasarnya dalam agama.

Teringat perkataan seseorang di sebuah majelis yang memastikan sesuatu, padahal ia tidak punya kuasa untuk itu. Miris sekali mendengarnya. Ia berkata dalam sebuah majelis tentang jodoh, "Seret jodoh, amalkan ini sekian kali, pasti jodohnya akan segera datang. Saya jamin."

Tertegun saya mendengar perkataannya yang berani memastikan apa yang ia tidak memiliki kekuasaan untuk mengaturnya. Dan terhenyaklah saya ketika mendengar ia bercerai dari suaminya. Betapa bertentangan apa yang ia katakan dengan apa yang menimpanya. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang demikian disebabkan kecerobohan kita bertutur. Di luar itu, ada masalah terkait dengan amalan yang disebut bersebab tidak jelas dasar dan tidak adanya tuntunan.

"Pengen punya anak tapi gak dapet-dapet? Amalkan ini dan ini. Pasti deh..."

Ini termasuk perkataan bathil yang melampaui batas. Ia memastikan apa yang menjadi hak prerogatif Allah Ta'ala sepenuhnya dan termasuk perkara yangghaib. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Lebih-lebih yang mengatakan sendiri tak kunjung punya anak, lalu bagaimana mungkin ia memastikannya? Tentu saja tak punya anak disebabkan Allah Ta'ala tak menganugerahinya bukanlah aib. Yang rusak adalah jika ia sendiri tak kuasa menentukan takdir atas dirinya, tetapi berani memastikan takdir atas orang lain.Na'udzubillahi mn dzaalik.

Jika ada di antara kalian yang berkata semacam itu dan Allah Ta'ala beri teguran langsung semisal perceraian, bersyukur dan bertaubatlah. Bersyukur karena Allah Ta'ala memberi peringatan. Tidak membiarkan dalam kelalaian yang bertambah-tambah. Bertaubat atas salah yang terjadi.

Sepanjang pengetahuan yang terbatas, di antara tafsir "يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي" adalah Allah Ta'ala munculkan orang-orang shalih dari para pendahulunya yang ingkar; dan sebaliknya lahirnya orang-orang ingkar dari para pendahulunya yang shalih.

Teladan saja tidak cukup. Bukankah Nabi Luth dan Nabi Nuh 'alaihimas salaam adalah sebaik-baik teladan bagi keluarganya? Maka, kita perlu senantiasa memohon kepada Allah Ta'ala perlindungan atas anak-anak kita dan keturunan kita seluruhnya. Juga atas diri kita. Kita berdo'a sepenuh pinta kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan menjaga adab-adabnya seraya bertawakkal kepada-Nya. Bukan kepada trik berdo'a.

Kita memohon kepada Allah Ta'ala, "رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ Tuhanku, karuniailah aku (seorang) anak yang termasuk orang-orang shalih." (QS. Ash-Shaaffaat, 37: 100).

Kita juga memohon untuk diri kita kepada Allah Ta'ala istri/suami serta keturunan yang menjadi penyejuk mata; di dunia hingga akhirat:


"رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا"

"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqaan, 25: 74).

Sudahkah engkau do'akan istri dan anak-anakmu?


Kembali pada perbincangan awal. Atas setiap perkataan, takarlah adakah ia bersesuaian dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah atau menyelisihinya? Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLlah, yakni Al-Qur'anul Karim, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Janganlah karena ingin menunjukkan dirimu mampu memberi solusi yang pasti ampuh, lalu engkau melalaikan apa yang digariskan agama ini.

Jagalah lisanmu, wahai diriku, dan ingatkan saudaramu agar tak tergelincir pada perkataan indah yang menjerumuskan ke dalam api yang menyala. Ingatlah perkataan Rasulullah Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam:


"إِنَّ الْعَبْدَ يَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ"

"Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang tak ia periksa (kebenarannya sebelum berucap), maka karena satu kata tersebut dia dapat terjerumus ke dalam neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat." (HR. Bukhari & Muslim). http://www.islamedia.web.id/2013/11/ringan-diucap-berat-dihisab.html

 
Copyright © 2013 Griya Jatiluhur 1
Share on Blogger Template Free Download. Powered byBlogger